SARASVVATI

Head in the clouds, Fingers on the keyboard

1 note &

Tentang Jodoh (Saya)

http://1.bp.blogspot.com/-IQ3yHEaelDQ/UI8qhdwLSwI/AAAAAAAAAGg/Ot6vrO1harE/s320/jodoh-dan-ketentuan.jpg

Postingan kali ini mungkin adalah salah satu postingan paling jujur yang saya bikin di sini. Tentang jodoh. Orang-orang sekitar saya biasa banget bercanda sama saya tentang masalah jodoh yang which is menurut saya wajar banget kalau topik itu terus-terusan dibahas mengingat umur saya yang sekarang ini sudah 24 tahun 5 bulan. Saya sih selalu menanggapi bercandaan jodoh itu dengan balas bercanda, tapi bohong banget kalau saya bilang, "I do not take that into consideration." Saya peduli banget. Saya juga sadar umur saya udah nggak muda lagi, teman-teman dekat saya juga sudah pada punya pacar dan serius. Kelihatannya saya aja yang paling asik nikmatin hidup saya seperti tokoh perempuan novel metropop pada umumnya: twenty-something career woman, calon sukses (amiin), dan single. Padahal saya sejujurnya khawatir sama diri saya sendiri. Mulai dari kekhawatiran apakah saya yang terlalu picky sampai kekhawatiran bahwa saya memang nggak laku. Okay, the latter kedengeran desperate memang tapi sejujurnya ya memang itu yang saya rasain.

Hubungan status single saya dan kesibukan kerja bahkan sekarang udah seperti chicken and egg theory. Nggak tau mana yang muncul duluan. Apakah saya yang memang terlalu ‘asik’ sama kerjaan saya sampai nggak punya waktu untuk nyari pacar? Atau justru saya emang sengaja bikin diri saya sibuk karena kalau saya nggak menyibukkan diri saya bakalan terus kepikiran status saya yang single?

Sebagai perempuan, walaupun saya sebisa mungkin berusaha terlihat super mandiri, tapi deep down saya sebenernya butuh sosok pasangan yang bisa jadi tempat saya bersandar. Kedengeran cheesy ya? Tapi memang se-simple itu. Nggak sedikit orang yang bilang, “Ah, come on, Jeng. Kamu bisa dapetin itu dari yang lain. Bukan dari pacar aja.” Yes, I know. Saya masih punya temen, sahabat, keluarga. Tapi saya udah melewati masa itu. Sudah lima tahun lebih saya ngelewatin masa saya hidup tanpa seseorang yang saya sebut pacar, pasangan, atau sejenisnya. Tapi, itu nggak bisa selamanya. At the end saya tetap seorang perempuan, Hawa, potongan tulang rusuk Adam yang mendambakan seorang Adam.

Saya beberapa tahun yang lalu memang nggak peduli. Saya bisa nolak cowok sesuka hari. Pergi tiba-tiba kalau merasa nggak cocok. Ilfeel setiap cowok yang lagi deket sama saya bikin kesalahan kecil. Tapi, itu dulu. Saya yang dulu belum punya apa-apa, masih punya banyak target yang belum dicapai, masih terlalu naif, masih sibuk membuktikan kalau saya bisa mandiri. Saya yang sekarang merasa saya nggak perlu mati-matian membuktikan kalau saya bisa mandiri, saya justru ingin orang-orang tau kalau saya juga sebenernya bisa rapuh, dan saya nggak bisa selamanya hidup sendiri. Saya yang dulu ingin mengejar semua mimpi-mimpi saya setinggi-tingginya dan melengkapi checklist kriteria sukses. Tapi, saya yang sekarang justru ingin membagi mimpi-mimpi saya dengan orang lain, mengetahuii mimpi dia, dan bareng-bareng berusaha melengkapi checklist yang masih kosong. Berbagi itu selalu indah, bukan?

Kalau selama ini isi blog saya kebanyakan bercerita betapa saya bahagia dengan hidup saya, dengan karir saya, dengan betapa bersyukur saya punya orang-orang hebat yang nggak pernah absen ada di sekeliling saya untuk ngasih saya support dan inspirasi, kali ini aja saya ingin nuls dan mengaku bahwa saya belum lengkap. Masih ada hal yang belum saya temui, masih ada yang belum lengkap. Bukan, postingan ini bukan mengeluh. Saya cuma ingin mengaku. Saya cuma ingin jujur. saya bukan perempuan super yang sangat mandiri. Saya cuma seorang Hawa yang menunggu Adam.

P.S. Postingan ini muncul gara-gara saya mimpi hamil tapi nggak ada bapaknya. I didn’t even have sex dan saya hamil karena saya disuntik hormon-ntah-apalah-itu yang ada di dalam mimpi saya. Jadi kepikiran dan takut kejadian. Amit-amit.

Filed under l jodoh curhatpanjanglebar sarasvvati'sLife

0 notes &

Selamat Jalan, Tante Adnya…

Kita nggak pernah tau kapan maut menjemput kita. Bisa jadi setelah saya menuliskan tulisan ini saya meninggal, atau bahkan ketika tulisan ini belum selesai pun saya bisa saja dipanggil Tuhan, atau mungkin puluhan tahun kemudian saya baru meninggal. Kita nggak pernah tau.

Baru hari Kamis kemarin saya akhirnya ketemu lagi sama Tante Adnya setelah dua tahun saya absen ke Bali. Niat saya kebali memang untuk liburan tapi lebih dari itu, saya memang mau ketemu sama keluarganya Nanda, sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri untuk saya. Nggak cuma Nanda yang saya anggap keluarga sendiri. Mama, papa, dan adik-adiknya Nanda pun sudah saya anggap keluarga sendiri. Betapa shocknya saya ketika hari Sabtu ternyata jadi hari terakhir saya ngobrol sama Tante Adnya, karena hari Minggu Tante Adnya ternyata dipanggil Tuhan.

Di satu sisi saya merasa sedih banget karena Tante Adnya nggak ada lagi, tapi di satu sisi saya juga merasa bersyukur karena akhirnya Tante udah nggak sakit lagi. Saya percaya seiring dengan ‘pergi’nya Tante Adnya, rasa sakit yang dirasa sama Tante karena penyakit Leukemia dari empat tahun yang lalu ikut pergi. Saya percaya Tante sekarang sudah ada di tempat yang lebih baik, sudah nggak merasa sakit lagi, dan bisa lebih bahagia di sana. Saya juga bersyukur saya sempat ketemu Tante Adnya sebelum Tante nggak ada. Hari ini Tante dimakamkan di Tabanan, sedih rasanya saya nggak bisa ada langsung di sana karena saya nggak bisa cuti, tapi saya tetep doain dari sini.

Walaupun saya nggak sering ketemu sama Tante Adnya, tapi dari sebentar kebersamaan saya dengan Tante Adnya setiap kali ketemu, saya belajar banyak hal dan above all saya merasa disayang. Seandainya saya masih sempat bilang terimakasih dan maaf sama Tante Adnya ada banyak sekali terimakasih dan maaf yang mau saya bilang. Terimakasih Tante atas semua perhatian Tante ke saya yang bukan anak kandung Tante. Terimakasih karena selalu berhasil membuat saya merasa spesial dan membuat saya merasa bagian dari keluarga. Saya masih inget dua tahun yang lalu ketika saya main ke Bali, Tante langsung meluk saya dan bilang, “Anak Tante akhirnya ke Bali juga! Kok jadi gendut, Kak?” Saya cuma bisa senyum karena saya tahu Tante nggak suka banget ngeliat saya gendut. Nanti nggak keliatan kaya model, kata Tante. Makasih Tante, karena Tante udah ngajarin saya tentang pentingnya menjaga penampilan. Kalau bukan karena Tante dan Nanda, saya pasti masih berbentuk bulat dengan rambut kribo dan nggak keliatan kaya model sama sekali. Hahaha, kesannya dangkal ya? Tapi, dengan begitu Tante ngelatih saya untuk jadi lebih percaya diri, ngelatih saya untuk merhatiin penampilan, ngelatih saya bahwa walaupun “what’s inside matter” tapi bukan berarti orang nggak ngeliat “cover”nya. Makasih Tante karena selalu nyebut saya ‘anaknya Tante’. It means a lot to me, bahagia rasanya tau kalau orang yang udah saya anggap Mama sendiri juga ngaggep saya anak. Dan, terimakasih Tante karena telah melahirkan dan membesarkan Nanda sehingga saat ini saya punya sahabat yang luar biasa. Terimakasih atas semuanya ya, Tante. Saya nggak akan seperti saya yang sekarang kalau saya nggak pernah kenal Tante. Terimakasih ya, Tante. Terimakasih atas semuanya. Maaf juga ya, Tante kalau selama ini saya belum bisa bikin Tante bangga. Saya memang nggak seberbakat dan sepinter Nanda. Tapi saya janji, saya akan terus berusaha untuk jadi lebih baik, Tante. Maafin saya baru sempet ke Bali kemarin setelah sekian lama. Maaf saya hampir nggak pernah hubungin Tante untuk sekedar tanya kabar, saya cuma titip salam lewat Nanda. Maaf saya nggak sempet ngerawat dan nemenin waktu Tante sakit, dan nggak ada di rumah sakit waktu Tante dipanggil Tuhan. Maafin saya atas semua kesalahan baik yang sengaja maupun nggak sengaja saya lakuin ya, Tante. Maaf.

Tante, Tante baik-baik di sana, ya… Tuhan sayang sama Tante, jadi Tuhan nggak mau ngeliat Tante sakit lebih lama lagi. Tante yang tenang, yang bahagia. Tante di sana pasti lebih sehat dan ceria. Tante juga nanti bisa ketemu sama Opa. Saya di sini bakalan berusaha untuk jagain Om, Nanda, dan adik-adik, jadi Tante di sana bisa tenang. Saya juga pasti selalu kirim doa untuk Tante. Kan Tante udah seperti Mama kedua untuk saya. Semoga segala amal baik Tante selama di dunia melapangkan jalan Tante di sana, ya. Titip salam untuk Mbah Yi. Selamat jalan dan sampai ketemu lagi suatu hari nanti, Tante…

Love,

Kak Ajeng

Filed under pewarna hidup inspirators death fams

0 notes &

Can’t describe how grateful I am for having them in my life. Thanks for great days, fabulous nights, and awesome life experiences you’ve shared along these 7 years of our friendship. May it lasts for centuries if we could live for hundreds years. (at Sky Garden Lounge, Legian Kuta Bali)

Can’t describe how grateful I am for having them in my life. Thanks for great days, fabulous nights, and awesome life experiences you’ve shared along these 7 years of our friendship. May it lasts for centuries if we could live for hundreds years. (at Sky Garden Lounge, Legian Kuta Bali)

Filed under krayonku 3diots

2 notes &

The darkest hour of the night came just before the dawn.
Old Proverbs in Santiago’s Country, from the book "The Alchemist" by Paulo Coelho (via s0theysay)

0 notes &

Is It What I Really Want?

You can call me the luckiest b*tch on earth for living my life. Iyap, kurang beruntung apa coba saya? Punya keluarga yang Alhamdulillah masih lengkap, punya teman-teman dekat yang hebat juga supportive, dan punya kerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup untuk kehidupan di Jakarta. Almost perfect kecuali masalah jodoh (tapi mari kita kesampingkan dulu masalah jodohnya karena bukan ini yang mau saya omongin sekarang.

Ketika beberapa teman saya tau saya kerja dimana, mereka kaget. Booooooookk! Seorang Ajeng bisa lho kerja di situ!! Aha surprising memang. Ditambah lagi ketika tahu prospek karir yang lagi saya jalanin, nggak sedikit yang setuju bahwa saya cocok banget jadi salah satu tokoh novel metropop: wanita karir, single, (calon) sukses, dan cantik (abaikan poin terakhir. Saya nggak cantik. Tapi saya keren). Ada juga yang pengen ngerasain one day in my shoes. Yeah, you wish! (Hahahaha somboooooong!!!!) Tapi mereka sebenernya nggak tahu apa-apa.

Saya bukannya nggak mau dan nggak bisa bersyukur dengan keadaan saya sekarang. Puji Tuhan banget saya bisa seperti sekarang. Walaupun kadang masih suka ngeluh waktu sadar, damn! I am a corporate slave! Heits! Jangan salah, saya menikmati banget semua proses yang lagi saya jalanain sekarang ini. Tapi nggak jarang ada satu pertanyaan yang berkali-kali muncul di kepala saya: “Is it what I really want?”

Kalau saya dengan gampangnya jawab pertanyaan itu, saya pasti jawab, “NO.” Kenapa? Soalnya yang saya pengen ya kaya dulu aja gitu, hidup santai, kerja jadi penyiar, sambil jadi script writer, kadang-kadang reportase event, penghasilan paling gede di dapet dari nge-MC, dan di sela-selanya saya bisa nulis sambil ngopi cantik. Iya, nulis dan ngopi. Hal yang paling bisa bikin saya ngerasa rileks dan intact. Tapi, nggak mungkin dong saya ngikutin kepengen saya dengan egoisnya sementara orang tua saya juga dag-dig-dug mikirin karir anaknya. Di sisi lain saya juga mikir lah, sampai kapan saya bisa bergantung dengan penghasilan seorang penyiar junior yang belum punya nama di umur saya yang waktu itu sudah 21 tahun. Akhirnya saya memilih kerja kantoran dan hijrah ke Jakarta. For the sake of my future and my parents’ wish.

Tapi, as the time went by, pertanyaan “is it what I really want?” nggak pernah berhasil ilang. Setiap kali pertanyaan itu muncul, saya selalu nyoba untuk menemukan “what I do not want”. Saya bilang ke diri saya sendiri, “Saya nggak mau kerja 9 to 5 duduk di cubicle dan melototin laptop, pakai baju kantoran, dengan sepatu high heels.” Tercapai. Saya nggak harus kerja di kantor 9 to 5, saya bebas pakai baju apa aja ke kantor, dan saya bisa pakai flat shoes or even sneakers! Untungnya juga, saya punya mentor di tahun kedua saya kerja yang bener-bener supportive dan bisa mengerti saya. Saya inget banget mentor saya pernah nanya, “Gimana jeng hampir dua tahun kerja di sini? Enjoy?” Waktu itu saya senyum awkward sambil mikirin jawaban diplomatis dan akhirnya saya jawab, “I would say, enjoy sih, Mbak. Hehehe. Walaupun ya, kadang masih ngerasa nggak sreg dan ngerasa aku lama banget berkembangnya. Mungkin karena bukan bidang yang aku banget kali ya. Tapi enjoy, kok. And I am so happy for being part of your team.” Kemudian mentor gue itu ngeliatin saya lama, mungkin menyelami makna muka saya untuk nyoba baca message tersirat dari apa yang saya omongin. Akhirnya mentor saya nanya lagi, “How old are you?” Saya jawab langsung, “23.” (Yes, waktu saya ngobrol sama mentor saya, umur saya masih 23 tahun). Dia diem lagi dan ngomong, “Jeng, I didn’t know what I really want when I was in your age. Tapi, lo tau nggak? Lo ada di sini di umur 23 tahun, udah jadi pegawai tetap, jenjang karir terbuka lebar di sini. Mungkin sekarang lo masih bingung apa yang lo mau. Atau mungkin lo justru percaya banget lo tau apa yang lo mau. Tapi, lo ngeh nggak? Seberapa banyak lo tau tentang perusahaan ini? Seberapa banyak posisi yang ada di perusahaan ini? Nggak Cuma di Indonesia, tapi di Asia Pasifik, even global. Dari sekian banyak posisi yang ada, berapa banyak sih yang udah lo cobain? Marketing, production, sales, channel, b2b, whatelse? Banyak yang belum lo cobain, kan? Atau malah mungkin apa yang lo pengen sebenernya apa yang lo kerjain sekarang?”

Habis itu gantian saya yang diem. She got the point. Maksud saya, bener juga ya? Kenapa saya selalu mikir kalo kerjaan ini nggak saya banget? Siapa tau sebenernya kerjaan ini saya suka, cuma saya udah keburu mikir nggak asik, jadi aja kerjaan ini kesannya dipaksain. Sehabis itu, ketika pertanyaan "Is it what I really want?" muncul, saya selalu mencoba untuk meng-counter dengan pertanyaan “Is it what I don’t want?” Dan jawabannya selalu, "This is what I want for now."

Saya nggak tahu, sampai kapan saya galau nggak jelas tentang karir kaya gini. Tapi, di satu sisi saya juga ngerasa Tuhan baik banget sama saya. Saking baiknya, setiap kali saya ngerasa down gara-gara kerjaan, setiap kali saya mikir, “It’s time to quit”, setiap kali saya mau update CV untuk nyari kerjaan lain, selalu muncul orang-orang yang dengan positifnya mengajak saya untuk ngeliat dari sudut pandang lain. Hei, kerja di bidang yang nggak sama dengan minat kita bukan berarti kita nggak bisa eksplor minat dan bakat kita kok? Sekarang kalau ditanya, “So, is it what do you really want, Jeng?” I will answer, “I believe that I am so gonna do my job the way I want it.” Fair enough, kan?

Filed under curhatpanjanglebar worklife random thought

0 notes &

I can’t find any other better way to start my weekend! Thanks my dear genggong otak lontong for such a great friday night!! Oh! And Mentari, it’s great to finally see you in person! Thanks for the CD and the chocolates!!! (Sweet kan gue?)

I can’t find any other better way to start my weekend! Thanks my dear genggong otak lontong for such a great friday night!! Oh! And Mentari, it’s great to finally see you in person! Thanks for the CD and the chocolates!!! (Sweet kan gue?)

2 notes &

Nice coffee, nice weather, nice place… Today is just nice… #coffee  (at 1/15 Coffee, Gandaria)

Nice coffee, nice weather, nice place… Today is just nice… #coffee (at 1/15 Coffee, Gandaria)

Filed under coffee

0 notes &

And as what KNel said to me 2 years ago: “as the girls who love to read, we’re so lucky. We always know what we can do every time we have nothing to do: grab our books”

And as what KNel said to me 2 years ago: “as the girls who love to read, we’re so lucky. We always know what we can do every time we have nothing to do: grab our books”

Filed under coffee book music

1 note &

Sometimes what you miss the most is the way a loved one made you feel about yourself.
Mitch Albom, from his book "The First Phone Call From Heaven", p. 224

Filed under quote mitch albom